Ambarawa (?)

Selamat datang di Ambarawa!

Sebuah kota kecil berhawa sejuk di Kabupaten Semarang.. Lokasinya yang berada di lereng gunung dengan ketinggian di atas 400 mdpl membuat suhu udara relatif dingin. Konon Belanda menjadikan Ambarawa sebagai salah satu pusat militer karena cuacanya yang cukup bersahabat untuk para bule ini disamping lokasinya yang cukup strategis dan berada di persimpangan beberapa kota besar di Jawa bagian tengah yaitu Semarang, Solo, Magelang, dan Jogja.

Nama Ambarawa sendiri ada dua versi, versi pertama terkait legenda yang melatari kota kecil ini, yaitu legenda Rawa Pening. Rawa inilah yang menjadi sebab mengapa kota ini bernama Ambarawa, yang artinya rawa yang luas (dalam bahasa Jawa, amba artinya luas).

Versi kedua adalah pada era kerajaan Kerajaan Mataram (Amangkurat II) kawasan ini bernama Limbarawa.

Mana yang benar? Kalau ryan sediri karena sering dengar versi pertama makanya ikut yang versi pertama karena orang-orang tua sering bilang “mbahrowo” untuk menyebut Ambarawa. Dulu Ambarawa pernah menjadi ibu kota Kabupaten Semarang. Sekarang ibu kotanya adalah Ungaran. Ambarawa juga disebut sebagai kota Palagan Ambarawa, dan terdapat Musium Palagan Ambarawa, Musium Kereta Api Ambarawa dan Benteng Willem I.

Ambarawa menghubungkan penting adalah memberikan jalur rel bergerigi kereta api yang menghubungkan seluruh wilayah Jawa Tengah hingga Yogyakarta melalui Magelang. Jalur Semarang-Ambarawa-Magelang adalah sepenuhnya operasional sampai 1977. Sekarang merupakan situs Museum Kereta Api Ambarawa.

Ambarawa adalah lokasi penguburan kamp Jepang di mana lebih dari 15.000 orang Eropa telah dilaksanakan selama masa penjajahan Jepang. Setelah Jepang menyerah dan ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pertempuran pecah di daerah Ambarawa pada tanggal 20 November 1945 antara pasukan Inggris yang mengevakuasi di tanah jajahan Eropa dan Republik Indonesia.

Ada apa sich di Kota Ambarawa ini? Yuk, ikut saya.
Ambarawa adalah kota yang terletak di dasar lereng gunung, mirip dengan sebuah cekungan. Ambarawa dikelilingi oleh pegunungan. Pemandangan yang bisa anda lihat di segala arah adalah gunung dan gunung saja. Di utara, ada Gunung Ungaran. Di selatan, ada Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sayang, walaupun bergunung-gunung, namun Ambarawa berupa dataran. Saya merasa hawa dingin di tempat ini. Ambarawa sendiri merupakan kota perlintasan. Jalur utama Semarang – Magelang – Yogyakarta akan melalui tempat ini. Pusat keramaian kota ini berpusat di Pasar Projo yang terletak di jalan utama kota, Jalan Jenderal Sudirman. Sepanjang jalan, anda akan menjumpai banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai jenis perlengkapan rumah tangga, sayur mayur, makanan dan banyak hal.

Hal yang paling dikenal dari Ambarawa adalah statusnya. Ambarawa terkenal sebagai Kota Pahlawan, hampir serupa dengan Surabaya. Banyak peninggalan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang masih terawat dan menjadi ikon dari kota ini. Sebut saja Monumen Palagan Ambarawa, Museum Kereta Api, dan Benteng Williem II. Semua peninggalan sejarah tersebut dalam kondisi terawat dan menjadi lambang dari Kota Ambarawa ini. Masih di Ambarawa, ada Gua Maria Kerep yang menjadi tempat ziarah umat Katolik yang cukup terkenal. Tidak jauh dari Ambarawa, di Kecamatan Banyu Biru (10 KM dari Ambarawa) di Kabupaten Semarang, ada Danau Rawa Pening yang sangat terkenal. Walau terletak di Kabupaten Semarang, namun Danau Rawa Pening sangat identik dengan Ambarawa. Ambarawa menjadi titik asal para pelancong yang akan berkunjung ke Danau Rawa Pening ini. Walau bukan kota resort yang terletak di pegunungan, namun dengan berjalan tidak terlalu jauh, anda akan bertemu banyak tempat yang menawarkan tempat wisata pegunungan, misalnya di utara ada Bandungan, di barat ada Pringsurat, di timur ada Tuntang, dan di selatan ada Kopeng.

Satu hal lagi yang menjadi ciri khas Ambarawa adalah kulinernya. Walau tidak sepopuler Serabi Notosuman di Solo, namun Ambarawa memiliki Serabi khasnya sendiri. Masih di perpanjangan Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di Kelurahan Ngampin, rute Semarang menuju Yogyakarta sebelum mencapai Bedono, masih di pinggir Ambarawa, ada deretan panjang penjual serabi yang berjejer di pinggir jalan. Uniknya, kios-kios tersebut berukuran tidak terlalu besar, maksimal sekitar 2×2 meter saja. Deretan kios-kios tersebut memanjang hampir sekitar 1 kilometer jauhnya. Penjual serabi tersebut memasak dengan cara tradisional, lengkap dengan tungku kecil-kecil di depan kios mereka. Walaupun berdempet-dempetan, jualan mereka serupa : serabi. Walaupun umumnya dibawa pulang, anda bisa mencoba menikmati serabi di beberapa kios yang memiliki bale-bale. Kehidupan dan denyut Ambarawa umumnya melambat selepas terbenamnya matahari. Sekitar pukul 8 malam, toko-toko di sepanjang deretan Pasar Projo mulai menutup usahanya. Namun tidak demikian dengan kios-kios serabi yang masih setia menunggu pembeli. Hingga malam, walaupun kondisi di kanan dan kiri jalan cukup sepi, namun pembeli masih berdatangan satu dua orang. Keramaian yang ada di ruas ini hanyalah dari bus-bus malam Semarang – Yogyakarta yang melintas plus kendaraan-kendaraan lain. Kalau mampir dan melintasi penjual serabi Ambarawa ini, cobalah untuk menepikan mobil dan merasakan citarasa Ambarawa yach.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s