Resep (Jitu) : Membahagiakan Kedua Orang Tua

Pernahkah ada yang Tanya kamu bahagia gak sama dia? Pasti kebanyakan dari kita akan menjawab bahagia. Benarkah seperti itu? Apakah ketika kita menjawab tidak bahagia boleh?

Dalam sebuah keluarga pasti sebagai seorang istri atau suami akan berusaha menutupi apa yang sedang terjadi di dalam internal keluarganya. Gak akan dia sampaikan apa yang sebenarnya terjadi, biasanya dia akan menjawab bahagia dengan secepat mungkin ketika ditanya. Itu menurut islam memank harus demikian. Lantas kalau menjawab tidak bahagia bolehkah? Tentu saja boleh asalkan itu disampaikan kepada orang yang tepat misalnya kepada istri atau suaminya langsung, mertua atau kedua orang tuanya.

Bagaimana apabila itu ditujukan kepada seseorang yang sedang menjalin hubungan sebatas pacar atau sejenisnya? Saat ini banyak pasangan yang menjalani proses perkenalan mereka dengan mulus-mulus saja tanpa ada hambatan. Ini dikarenakan mereka masih belum berhubungan secara intens.

Yupz.. Kunci dari kebahagiaan di dunia ini adalah adanya hubungan yang intens. Apabila ini bisa dijaga maka dia akan bahagia. Tentu saja ini apabila bahagia dilihat dari kacamata pasangan muda-mudi, pasangan baru menikah atau pasangan yang belum mempunyai anak.

Pernahkan kita bertanya kepada orang tua kita apa yang membuat mereka bahagia? Ataukah sempat terlintas untuk menyurvei  masalah ini? Banyak yang tidak kita ketahui terkait indikasi bahagia menurut orang tua. Banyak diatara anak muda yang tidak peduli akan hal ini. Yang ada di dalam pikiran mereka adalah bagaimana saya bisa kuliah setinggi-tingginya, bagaimana saya bisa bekerja di perusahaan tertentu, bagaimana saya bisa mempersunting pasangan dengan criteria a sampai z, bagaimana saya bisa hidup dengan sesantai-santainya, bagaimana saya bisa hidup sebebas-bebasnya tanpa ada yang melarang. Itu wajar dengan kondisi mereka yang tidak mau memikirkan orang tua mereka.

Ryan pernah ngobrol dengan bapak-bapak didalam sebuah bus ketika perjalanan ke Jakarta. Sempat terlintas untuk menanyakan masalah ini. Apa yang beliau sampaikan? Bahagia itu sederhana… sesederhana bisa melihat anak mereka selesai kuliah kemudian mendapatkan pekerjaan. Setelah itu bisa ikut merayakan pernikahannya dan bisa mengasuh anak mereka. Sangat sederhana apa yang mereka pikirkan. Tidak terlintas dalam pikiran mereka untuk dibelikan rumah yang megah dan luas, diberi uang yang banyak atau yang lainnya.

Bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Sudahkah menjadi atau memberi apa yang mereka inginkan?

Orang tua melahirkan anak biasanya ingin lebih dari satu dan biasanya ingin berbeda kelamin antara yang satu dengan yang lainnya. Ini didasari hal tersebut diatas. Dia berharap kalau anak pertama gak bisa mewujudkan keinginan orang tuanya, smoga anak kedua bisa mewujudkannya. Sebuah doa yang selalu mereka panjatkan kepada Yang Maha Kuasa.

Mari kita bahas satu persatu..

Ketika anaknya kuliah S1 di sebuah universitas, apakah orang tua mendorong anaknya agar segera lanjutkan S2? Adakah dorongan itu? Secara lahiriah, itu tidak ada. Kalaupun ada maka sangat sedikit sekali. Ini dikarenakan mereka ingin anaknya bisa merasakan bagaimana caranya mengais rejeki dari Allah. Mereka berharap anaknya bisa segera mendapatkan pekerjaan yang layak karena mereka selalu berpikir umur mereka tidak akan lama lagi.

Mari kita tinjau umur.. Misalnya pasangan menikah di usia 25 tahun kemungkinan umur 26 dia mempunya anak. Pada usia berapa dia akan lulus S1 secara wajar? Tepat, umur 21 tahun paling cepat dia selesai S1. Rata-rata umur 22 dia lulus S1. Apabila 26 ditambah 21 maka umur 47 dia akan melihat anaknya mempunyai pekerjaan.  Umur 47 tahun sekarang ini banyak orang tua yang sudah beruban.

Setelah melihat anaknya bekerja, orang tua menginginkan anaknya untuk segera menikah. Umur 27 tahun belum menikah untuk ukuran wanita itu termasuk “umur ketuaan”. So, mereka berkeinginan paling tidak umur 26 si anak menikah. Coba lihat kondisi keluarga dimana si anak wanita yang berumur 26 tahun ketas belum menikah.. pasti suasana disana agak kaku. Lantas untuk pria, umur 30 tahun belum menikah itu termasuk “umur ketuaan”. Mereka berkeinginan agar anaknya tidak sampai berkepala tiga dan sudah menikah. Orang tua akan berfikir, “apakah anakku ini memank gak laku ya??”.

Mari kita tinjau umur.. Misalnya si wanita menikah di umur 26 tahun, berapa umur orang tuanya? 26 ditambah 26 adalah 52. Ini baru anak pertama mereka. Apabila anak ketiga, pada usia berapa dia bisa melihatnya menikah? Asumsi selisih antara anak satu dengan yang lain adalah 2 tahun maka pada usia 56 tahun dia baru bisa melihat anak ketiganya menikah. Lantas kapan mengasuh cucu? Seandainya anak laki-laki bagaimana? Misal dia menikah di umur 29 tahun dan dia anak ketiga maka si orang tua baru akan melihat anaknya menikah di usia 59 tahun. Jaman sekarang umur tidak bisa diprediksi, banyak yang belumpensiun dari pekerjaanya tetapi, sudah meninggal dunia. Apakah kita mau menikah tanpa kehadiran orang yang sangat kita cintai?

Lantas apa yang mereka inginkan setelah melihat anaknya menikah? Tentu saja mereka ingin melihat anaknya memberikan cucu untuknya. Orang tua tidak risau ketika melihat anaknya yang sudag bekerja dan sudah menikah tapi belum mempunyai rumah. Akan tetapi, dia akan sangat risau ketika mendapati anaknya belum juga mempunyai anak. Karena nanti misalnya dia sudah tidak ada, rumahnya bisa dia berikan kepada anaknya, tetapi dia tidak bisa mewariskan anak.

Mari kita tinjau umur.. Misalkan anak perempuannya yang ketiga menikah di usia orang tua 56 tahun, bisa jadi paling cepat dia akan melihat cucu di umur 57 atau 58 tahun. Itu apabila mereka segera dikaruniai cucu, bagaimana kalau tidak?

Coba rekan-rekan renungkan baik-baik masalah ini…

Bahagia kita mungkin ketika kita bisa maen bareng temen-temen, bisa melakukan suatu hal tanpa adanya campur tangan, apakah terlintas bagaimana bahagianya orang yang sangat kita sayangi dan cintai? Bahagia mereka sederhana.. sesederhana bisa melihat anak mereka selesai kuliah kemudian mendapatkan pekerjaan. Setelah itu bisa ikut merayakan pernikahannya dan bisa mengasuh anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s